1. A.      Minat dan Motivasi
    1. 1.     Pengertian minat

Membahas tentang minat, tidak lepas dari kejiwaan manusia. Oleh karena minat adalah salah satu Marksheffel dalam bukunya yang aspek piskis yang ada pada setiap manusia. Apalagi seseorang menaruh minat terhadap sesuatu, maka orang tersebut akan berusaha dengan sekuat mungkin untuk memperoleh yang di inginkannya. Upaya-upaya yang di lakukan orang tersebut dapat terjadi karena karena adanya dorongan lewat minat yang dimilikinya. Dengan demikian minat adalah motor penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk mencapai tujuan yang di cita-citakan.

Begitu juga untuk siswa yang memiliki minat dalam dirinya untuk belajar, maka siswa tersebut dapat dengan mudah menyerap materi pelajaran yang di pelajarinya. Sebaliknya tanpa adanya minat dan perhatian dalam diri seorang siswa terhadap apa yang di pelajarinya. Sebaliknya tanpa adanya minat dan perhatian dalam diri seseorang siswa terhadap apa yang di pelajarinya, maka ia tidak akan menguasai materi yang dipelajarinya itu dengan baik. Oleh karena itu, maka kondisi belajar siswa sangatah. perlu diperhatikan dan tingkatkan oleh guru sebagai pendidik di sekolah.

Untuk mengetahui dengan jelas masalah minat tersebut, berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat tentang pengertian minat oleh para ahli sebagai berikut.

Slameto (1988;183) mengemukakan bahwa:

Minat adalah suatu rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyeluruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan suatu hubungan antara diri sendiri dan suatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.

Cony Setiawan (1988;61)

Minat (interest) adalah keadaan yang menghasilkan respon terarah terhadap suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan suatu kepuasaan kepadanya (startiesrs). Demikian juga minat dapat menumbulkan sikap yang merupakan suatu kesiapan berbuat bila ada stimulasi sesuai dan keadaan tersebut.

 

Dari beberapa tentang minat tersebut penulis dapat memahami bahwa minat adalah kesediaan jiwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, atau dengan kata lain bahwa minat itu mengarah kepada pemusatan perhatian secara maksimal untuk memperoleh tujuan yang diinginkan.

Pengaruh minat terhadap siswa dalam belajar

Telah dijelaskan di atas bhwa minat adalah keinginan jiwa terhadap suatu objek dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang di cita-citakan tersebut. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila dalam diri orang tersebut tidak terdapat minat atau keinginan untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya itu.

Hubungan minat dengan kegiatan belajar, minat menjadi motor penggerak untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tanpa dengan minat, tujuan belajar tidak akan tercapai. Untuk mengetahui lebih jelas pengaruh minat terhadap siswa dahulu penulis mengemukakan pendapat para ahli tentang belajar itu sendiri.

Secara umum belajar dapat di artikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Abu Ahmadi (1978;10) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut;

Murid belajar dengan seluruh tenaga dan jiwanya, tidak hanya dengan pikirannya saja. Setelah guru menyajikan bahan pelajaran dengan segala macam upaya dan usaha maka sekarang tugas anak untuk mengolah bahan pelajaran, mengingatnya dan mempergunakannya pada waktu ia berfikir di dalam seluruh kehidupannya.

Slameto (1988;2) berpendapat bahwa;

Belajar adalah suatu proses usaha yang di lakukan individu untuk mendapat suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu secara sendiri dalam inetraksi lingkungannya.

 

Dari beberapa defenisi di atas penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman inddividu dalam berinterksi dan lingkungannya. Dapat pula dikatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang melibatkan seluruh komponen badan termasuk fisik dan piskis. Kegiataan tersebut dilakukan secara aktif dan di sengaja dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan dan pengetahuan yang baru.

Untuk mencapai tujuan belajar yang dimaksud,  diperlukan adanya faktor pendorong atau minat dalam diri setiap siswa yang belajar. Dengan demikian, adanya minta dalam diri siswa yang belajar, mereka dapat memusatkan perhatiannya terhadap bidang dipelajarinya.

Jika minat siswa dibangkitkan, maka seluruh perhatiaanya dapat dipusatkan pada bidang studi yang dipelajarinya secara umum dan bidang studi pendidikan agama islam pada khususnya, kelas dapat menjadi tenang sebab siswa tidak mempunyai kesempatan melakukan hal-hal yng melanggar ketertiban kelas. Dengan demikian, proses belajar mengajar sebagaimana yang diharapkan.

Dari keterangan di atas, penulis memahami bahwa minat termasuk salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan siswa dalam belajar. Oleh sebab itu, jika sekiranya siswa tidak memilki minta atau kurang perhatian untuk menerima pelajaran , guru dapat  mengusahakan membangkitkan minat siswa melalui berbagai cara atau metode karena akibat dari hasil belajar yang maksimal.

  1. 2.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar

Berhasil atau tidak seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi banyak jenisnya, tetapi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor internal yang dimana terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis, dan faktor eksternal terdiri dari faktor sekolah, keluarga, dan masyarakat.

  1. Faktor Internal

W. Nugroho (2007, 37) faktor internal adalah merupakan sebuah dorongan yang berada dalam diri anak sendiri. Faktor inilah yang mendorong peserta didik untuk mencapai sesuatu apabila dalam dirinya tidak ada dorongan atau motivasi maka anak pun pasti mencapai sesuatu. Pemberian dorongan dan motivasi ini harus selalu diberikan oleh orang-orang yang berada disekitar peserta didik seperti orang tua dan guru, sehingga peserta didik dapat menimbulkan semangat untuk terus belajar.

  1. Faktor Biologis

1).  Faktor Kesehatan

Arianto Sam (2009: 34) kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemamuan belajar, bila seseorang kesehatannya terganggu misalkan sakit pilek, demam, pusing, batuk dan sebagainya. Dapat mengakibatkan cepat lelah, tidak bergairah, dan tidak bersemangat belajar.

Demikian halnya jika kesehatan rohani (jiwa) seseorang kurang baik misalnya mengalami perasaan kecewa atau sebab lainnya, ini bisa mengganggu atau mengurangi semangat belajar. Oleh karena tiu, pemeliharaan kesehatan sangat penting bagi setiap orang, baik fisik maupun mental, agar badan tetap kuat, pikiran selalu segar dan bersemangat dalam melaksanakan kegiatan belajar.

2).  Cacat Tubuh

Cacat tubuh adalah suatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh. Cacat tubuh seperti buta, tuli, patah kaki, lumpuh dan sebagainya bisa mempengaruhi belajar siswa. Sebenarnya jika hal ini terjadi hendaknya anak atau siswa tersebut di lembagakan pendidikan khusus supaya dapat menghindari atau mengurangi kecacatannya.

 

 

  1. Faktor Psikologis

Ada banyak faktor psikologis, tapi disini penulis mengambil beberapa saja yang ada relevansinya dengan pembahasan skripsi ini, faktor-faktor tersebut adalah

1).  Perhatian

Untuk mencapai hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan atau materi pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka minat belajar pun rendah, jika begitu akan timbul kebosanan, siswa tidak bergairah belajar, dan bisa jadi siswa tidak lagi sukar belajar.

2).  Kesepian

Kesiapan menurut James Drever yang dikutip oleh Arianto Sam (3 Januari 2009) adalah prepanednesto respond or reach. Kesiapan adalah kesediaan untuk memberikan respons atau bereaksi kesediaan itu timbul dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu perlu di perhatikan dalam proses belajar mengajar, seperti halnya jika kita mengajar ilmu filsafat kepada anak-anak yang baru duduk di bangku sekolah menengah, anak tersebut tidak akan mampu memahami atau menerimanya. Ini disebabkan pertumbuhan mentalnya belum matang untuk menerima pelajaran tersebut.

Jadi menganjurkan sesuatu itu berhasil jika taraf pertumbuhan pribadi telah memungkinkannya, petensi-potensi jasmani dan rohaninya telah matang untuk menerima karena jika siswa atau anak yang belajar itu sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya pun akan lebih baik dari pada anak yang belum ada kesiapan.

3).  Bakat atau Intelegensi

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar, misalkan orang berbakat menyanyi, suara, nada lagunya terdengar lebih merdu dibanding dengan orang yang tidak berbakat menyanyi.

Bakat bisa mempengaruhi belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakat, maka siswa akan berminat terhadap pelajaran tersebut, begitu juga intelegensi, orang yang memiliki intelegensi (IQ) tinggi, umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik, sebaluknya jika seseorang yang “IQ”nya rendah akan mengalami kesukaran dalam belajar.

Jadi kedua aspek kejiwaan ini besar sekali pengaruhnya terhadap minat belajar dan keberhasilan belajar. Bila seseorang memilki intelegensi dan bakatnya ada dalam bidang yang dipelajari, maka proses beljarnya akan lancer dan sukses di banding orang yang memilki “IQ” rendah dan berbakat , kedua aspek tersebut hendaknya seimbang, agar tercapai tujuan yang hendak dicapai.

 

  1. Faktor Eksternal

Arianto Sam (2009: 30) terdapat beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi minat belajar siswa adalah faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Uraian berikut akan membahas ketiga faktor tersebut.

  1. Faktor Keluarga

Minat belajar siswa bisa dipengaruhi oleh keluarga seperti cerah orang tua mendidik, suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga. Akan diuraikan sebagai berikut:

1).  Cara orang tua mendidik

Cara orang tua mendidik sangat besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Jika orang tua tidak memperhatikan pendidikan anaknya (acuh tak acuh terhadap belajar anaknya) seperti tidak mengatur waktu belajar, tidak melengkapi alat belajarnya dan tidak memperhatikan apakah anaknya belajar atau tidak, semua ini berpengaruh pada semangat belajar anaknya, bisa jadi anaknya tersebut malas dan tidak bersemangat belajar. Hasil yang di dapatkannya pun tidak memuaskan bahkan mungkin gagal dalam studinya.

Mendidik anak tidak baik jika terlalu dimanjakan dan juga tidak baik jika mendidik terlalu keras. Untuk itu, perlu adanya bimbingan dan penyuluhan yang tentunya melibatkan orang tua , yang sangat berperan penting akan keberhasilan bimbingan tersebut.

Sebagaimana lukman mendidik anaknya yang tercantum dalam al-qur’an surah Lukman 31: 13 sebagai berikut:

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8Ύô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ

 

Terjemahnya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Depak RI, 2005: 543)

 

2).  Suasana rumah

Suasana rumah dimaksudkan adalah situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi dalam keluarga, dimana anak dapat belajar dengan baik. Suasana rumah yang gaduh, ramai dan semrawut tidak memberi ketenangan kepada anaknya yang belajar. Biasanya ini terjadi pada keluarga yang besar dan terlalu banyak penghuninya, suasana yang tegang, rebut, sering cekcok, bisa menyebabkan anak bosan di rumah, dan sulit berkonsentrasi dalam belajarnya. Dan akibatnya anak tidak bersemangat dan bosan belajar, karena terganggu oleh hal-hal tersebut.

Untuk memberikan motivasi yang mendalam pada anak-anak perlu diciptakan suasana rumah yang tenang, tentram dan penuh kasih sayang agar anak tersebut betah di rumah dan bisa berkonsentrasi dalam belajarnya.

 

 

3).  Keadaan ekonomi keluarga

Dalam kegiatan belajar, seorang anak kadang-kadang memerlukan sarana  prasarana atau fasilitas-fasiltas belajar seperti buku, alat-alat tulis dan sebagainya. Fasilitas ini hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup uang, jika fasilitas tersebut tidak dapat dijangkau oleh keluarga. Ini bisa menjadi faktor penghambat dalam belajar tapi anak hendaknya diberi pengertian tentang hal itu. Agar anak bisa mengerti dan tidak sampai mengganggu belajarnya. Tapi jika memungkinkan untuk mencukupi fasilitas tersebut, maka penuhilah fasilitas tersebut, agar anak bersemangat dan senang dalam belajar.

  1. Faktor sekolah

  Faktor sekolah yang mempengaruhi minat belajar siswa mencakup metode mengajar, kurikulum dan pekerjaan rumah.

1).  Metode mengajar

Metode mengajar adalah suatu cara yang harus dilalui dalam mengajar, metode mengajar ini mempengaruhi minat belajar siswa. Jika metode mengajar guru kurang baik dalam artian guru kurang menguasai materi-materi kurang persiapan, guru tidak menggunakan variasi dalam menyampaikan pelajaran alias menonton, semua ini bisa berpengaruh tidak baik bagi semangat belajar siswa. Siswa bisa malas belajar, bosan, mengantuk dan akibatnya siswa tidak berhasil dalam menguasai materi pelajaran.

Oleh karena itu, unutk meningkatkan minat belajar siswa guru hendaknya menggunakan metode mengajar yang tepat, efesien dan efektif yakni dengan di lakukannya keteramilan variasi dalam menyampaikan materi.

2).   Kurikulum

Kurikulum diartikan sebagai jumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran. Bahan pelajaran yang seharusnya di sajikan itu sesuai dengan kebutuhan bakat dan cita-cita siswa juga masyarakat setempat. Jadi kurikulum bisa dianggap tidak baik kurikulum tersebut terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatian siswa.

Menurut Arianto Sam (2009: 20) yang perlu diingat bahwa sistem intruksional sekarang menghendaki proses belajar mengajar yang mementingkan kebutuhan siswa dan member semangat belajar siswa. Adanya kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan-kebutuhan siswa akan meningkatkan semangat dan minat belajar siswa, sehingga siswa mendapatkan hasil belajar yang memuaskan.

3).   Pekerjaan rumah

Pekerjaan rumah yang terlalu banyak dibebankan oleh guru kepada murid untuk dikerjakan di rumah. Merupakan momok penghambat dalam kegiatan belajar, karena membuat siswa cepat bosan adalah belajar siswa tidak memilki kesempatan untuk mengejarkan kegiatan yang lain. Untuk menghindari kebosanan tersebut guru janganlah terlalu banyak memberi tugas rumah (PR), berilah kesempatan siswa unutk melakukan kegiatan yang lain, agar siswa tidak merasa bosan dan lelah dengan belajar.

c. Faktor Masyarakat

  Masyarakat juga berpengaruh terhadap minat belajar siswa, misalnya saja antara lain:

1)    Kegiatan dalam masyarakat

Di samping belajar, anak juga mempunyai kegiatan-kegiatan lain di luar sekolah, misalnya menari, olahraga, menari dan sebagainya. Bila kegitan-kegiatan tersebut di lakukan dengan berlebih-lebihan, bisa menurungkan semangat belajar siswa, karena anak sudah terlanjur senang dalam dalam organisasi atau kegiatan di masyarakat, dan perlu di ingatkan tidak semua kegiatan masyarakat berdampak baik bagi anak.

Maka dari itu, orang tua perlu memperhatikan kegiatan anak-anaknya, supaya tidak hanyut dalam kegiatan-kegiatan yang tidak menunjang belajar anak. Jadi orang tua hendaknya membatasi kegiatan anak dalam masyarakat agar tidak mengganggu belajarnya.

2).  Teman bergaul

Pengaruh- pengaruh dari teman bergaul siswa lebih cepat masuk dalam jiwa anak jika teman bergaulnya baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa, begitu juga sebaliknya. Jika teman bergaulnya jelek pasti mempengaruhi sifat sifat yang jelek pada diri siswa. Seyogyanya orang tua memperhatikan pergaulan anak-anaknya, jangan sampai anaknya berteman dengan anak yang memilki tingkah laku yang tidak diharapkan, usahakan agar anak memilki teman bergaul yang baik yang bisa memberikan semangat belajar yang baik. Tugas orang tua hanya mengontrol dari belakang jangan terlalu dan jangan terlalu dibebaskan yang bijaksana saja, agar anak tidak terganggu dan terhambat belajarnya.

Menurut Mahfudz Shalahuddin dalam bukunya pengantar psikologi pendidikan yang di kutip oleh Atianto sam (2009: 25), ada empat aspek yang bisa menummbuhkan minat, yaitu:

  1. Fungsi/adanya kebutuhan-kebutuhan

Minat dapat muncul atau ddi gerakkan, jika ada kebutuhan seperti minat terhadap ekonomi, minat muncul karena adanya kebutuhan sandang, pangan dan papan.

Kebutuhan bisa di kelompokkan menjadi empat, yaitu:

  1. Kebutuhan seperti lapar dan haus.
  2. Kebutuhan akan cinta dan kasih dalam suatu golongan, seperti di sekolah dan di rumah.
  3. Kebutuhan keamanan seperti rasa aman.
  4. Kebutuhan untuk mewujudkan cita-cita atau pengembangan bakat.

 

  1. Keinginan dan cita-cita

Keinginan dan cita-cita dapat menolong munculnya minat terhadap sesuatu, seperti cita-cita untuk menjadi seorang dokter, secara otomatis orang tersebut akan berminat untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu kedokteran. Semakin besar cita-cita atau keinginan maka semakin besar/tinggi minat yang muncul dalam diri seseorang.

  1. Pengaruh budaya

Kebudayaan terdiri dari dua lingkup yakni lingkup mikro (individu) dan mikro (social dan adat istiadat). Kebudayaan dapat memunculkan minat-minat tertentu seperti tari-tarian untuk mempelajarinya, sama halnya dengan minat , itu muncul dari kebiasaan untuk mempelajari.

  1. Pengalaman

Pengalaman merupakan permulaan dari kebudayaan seperti pengalaman seorang guru dapat menumbuhkan minat guru untuk menekuni bidang-bidang keguruan, dengan adanya pengalaman tersebut minat seseorang dapat bergerak/bertambah.

  1. 3.     Motivasi belajar

Istilah motif sering dibedakan dengan istilah motivasi. Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 2005: 73). Menurut  Purwanto (2007: 60) motif adalah tingkah laku atau perbuatan suatu tujuan atau perangsang, sedangkan  menurut Nasution (2000: 73), motif adalah segala daya yang mendorog seseorang untuk melakukan sesuatu.

Menurut Makmun (2005: 37) menjelaskan bahwa meskipun para ahli mendifinisikannya dengan cara dan gaya yang berbeda, namun eseninya menuju maksud yang sama, yaitu motivasi merupakan suatu kekuatan (power) atau tenaga (force) atau daya (energy) atau keadaan yang kompleks (a complex state) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari. Penjelasan Makmun ini juga sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer, bahwa motivasi adalah keinginan atau dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan tujuan tertentu.

Menurut Sardiman (2001: 74), dalam motivasi terkandung tiga unsur penting, yaitu :

  1. Motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia, perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam system neurophysiological yang ada pada organisme manusia.
  2. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa (feeling) atau  afeksi seseorang. Motivasi dalam hal ini relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
  3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi yakni tujuan.

 

Menurut Mc. Donald, yang dikutip Oemar Hamalik (2003: 158) bahwa, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.

Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. Masih dalam artikel Siti Sumarni (2005), motivasi secara harafiah yaitu sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan secara psikologi, berarti usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.

Dari beberapa pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai. Atau keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

  1. 4.     Jenis-Jenis Motivasi

Makmun (2005: 37) membagi motivasi kedalam beberapa kelompok sebagai berikut:

  1. Motif primer atau motif dasar. Motif primer merupakan motif yang tidak dipelajari yang untuk ini sering juga digunakan istilah dorongan (drive). Motif ini dibedakan dalam :
  • Dorongan fisiologis yaitu bersumber pada kebutuhan organis antara lain rasa lapar, haus, istirahat, an lainnya. Kebutuhan ini lebih bersifat untuk melangsungkan hidup seseorang.
  • Dorongan psikologis, atau dorongan kejiwaan dalam diri seseorang seperti rasa takut, kasih sayang,  dan lainnya.

Motif-motif dalam kategori primer pada umumnya terjadi secara natural dan instinctif.

  1. Motif sekunder,  merupakan motif yang berkembang akibat adanya pengalaman, atu dipelajari. Termasuk dalam motif sekunder ini adalah motif berprestasi, motif-motif social sepeti ingin diterima, status, afiliasi, dan sebagainya.

Daru uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, motivasi adalah dua faktor penting ialah timbulnya gairah (pengaktifan, pemicu), pengarah (pilihan) perilaku. Timbulnya gairah telah memuaskan perhatian pada pertanyaan: apa yang dapat membuat orang menjadi aktif, keadaan apa yang membuat orang menjadi bergairah sehingga mereka ingin berlaku sebaik mungkin. Dan jika seseorang sudah digairahkan, apa yang membuat ia akan menuju ke arah tertentu.

Jadi uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, motivasi dianggap sebagai fenomena individual. Setiap individu unik dan semua teori motivasi utama diijinkan dengan satu dan lain jalan, memperkenankank keunikan ini supaya terlihat (yaitu setiap orang mempunyai kebutuhan, harapan, nilai, sikap, riwayat, perkuatan, dan sasaran yang berbeda.